Beranda » Artikel » Kesalahan Pada Saat Umroh

Kesalahan-kesalahan yang Terjadi dalam Pelaksanaan Umroh

Yang cukup penting untuk diketahui oleh setiap pribadi muslim yang hendak melakukan ibadah umrah khususnya adalah beberapa bentuk kesalahan yang terjadi saat proses pelaksanaan ibadah umrah, yang sebagiannya sampai pada tingkat kesalahan yang diyakini oleh sebagian jama’ah umrah sebagai bagian dari rangkaian amalan umrah.

Sebelum kami memaparkan sebagian kesalahan tersebut, penting rasanya untuk kami ingatkan, bahwa suatu ibadah itu harus memenuhi dua persyaratan penting. Jika tidak terpenuhi, maka ibadah tersebut tertolak dan tidak tergolong sebagai amalan shalih. Dua syarat tersebut adalah:

  1. Keikhlasan niat. Yaitu ibadah harus dilakukan karena mengharap ridha Allah subhanahu wa ta’aladan mendapatkan ganjaran dari-Nya. Tidak karena motivasi duniawi, riya’, sum’ah dan sebagainya.
  2. Amalan tersebut harus sesuai dengan bimbingan dan contoh yang dituntunkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena setiap amalan ibadah telah dicontohkan dan dibimbingkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan lengkap dan sempurna, sehingga tidak perlu ditambah ataupun dikurangi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ.

Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada perintah (dasar hukum dan contoh) dari kami, maka amalan tersebut tertolak [HR. Muslim]

Kesalahan-kesalahan yang terjadi dan terkait dengan ibadah umrah, kami bagi menjadi:

 

  1. Kesalahan yang terjadi sebelum berihram:
    1. Shalat dua raka’at sebelum pergi berumrah, dengan membaca pada raka’at pertama Surat Al-Kafirun, dan pada raka’at kedua membaca Surat Al-Ikhlash.
    2. Shalat 4 raka’at ketika hendak safar.
    3. Melakukan adzan sebelum keberangkatan.
    4. Berkunjung ke kuburan para nabi atau orang-orang saleh sebelum keberangkatan.
    5. Aqad nikah bagi wanita-wanita yang tidak memiliki mahram ketika hendak berumrah, dengan tujuan agar pria tersebut sebagai mahram sementara bagi wanita tersebut selama berumrah.
    6. Shalat dua rakaat setiap singgah di suatu tempat, sambil membaca do’a:اللهُمَّ أَنْزِلْنِيْ مَنْزِلاً مُبَارَكًا وَأَنْتَ خَيْرُ الْمُنْزِلِيْنَ…
    7. dan lain-lain

 

  1. Kesalahan yang terjadi ketika sampai di Miqat
    1. Melakukan Al-Idhthiba’ di saat memulai ihram. Padahal yang benar adalah, Al-Idhthiba’ dilakukan ketika memulai thawaf saja, sebagaimana telah dijelaskan di atas.
    2. Bertalbiyah dengan suara bersama atau dipandu oleh seorang pemandu.
    3. Mengucapkan do’a-do’a tertentu yang dikhususkan setelah pengucapan tabilyah, seperti:اللّهُمَّ إِنِّيْ أُرِيْدُ الْحَجَّ فَيَسِّرْهُ لِيْ وَأَعِنِّي عَلَى أَدَاءِ فَرْضِهِ وَتَقَبَّلْهُ مِنِّيْ …
    4. dan lain-lain

 

  1. Kesalahan yang terjadi ketika tiba di Makkah
    1. Mengadakan kunjungan khusus ke masjid-masjid yang berada di sekitar kota Makkah, selain Al-Masjidil Haram, dalam rangka melakukan shalat atau ibadah tertentu di dalamnya. Seperti sebuah masjid yang diberi nama Masjid ‘Aisyah yang berada di Tan’im.
    2. Melakukan kunjungan khusus ke tempat-tempat bersejarah di sekitar kota Makkah. Seperti rumah tempat kelahiran nabi, Gua Hira’, dan yang semisalnya.
    3. dan lain-lain

 

  1. Kesalahan yang terjadi ketika melaksanakan thawaf
    1. Pengucapan lafazh niat khusus ketika hendak berthawaf, seperti ucapan:نَوَيْتُ بِطَوَافِيْ هذا …
    2. Mengangkat kedua tangan ketika memegang Al-Hajarul Aswad atau saat melambaikan tangan seperti seseorang yang mengangkat kedua tangannya ketika melakukan takbiratul ihram dalam shalat.
    3. Melakukan shalat tahiyyatul masjid ketika memasuki Al-Masjidil Haram dalam keadaan sedang berihram. Karena yang benar bagi seseorang yang sedang berihram adalah langsung melakukan thawaf tanpa tahiyyatul masjid, dan setelah itu boleh baginya untuk duduk di Al-Masjidil Haram.
    4. Mengucapkan do’a ketika memegang Al-Hajarul Aswad dengan membaca:اللهُمَّ إِيْمَانًا بِكَ وَتَصْدِيْقًا بِكِتَابِكَ وَوَفَاءً بِعَهْدِكَ وَاتِّبَاعًا لِسُنَّةِ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَAtau do’a-do’a lain yang memang dikhususkan di saat menyentuh Al-Hajarul Aswad atau saat memberi isyarat dengan lambaian tangan.
    5. Bersedekap dengan meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri di saat thawaf.
    6. Mengucapkan do’a ketika melihat Ka’bah:اللّهُمَّ إِنَّ البَيْتَ بَيْتُكَ وَالْحَرَمَ حَرَمُكَ وَاْلأَمْنَ أَمْنُكَ وَهَذَا مَقَامُ الْعَائِذِ بِكَ مِنَ النَّارِ.Sementara telah disebutkan di atas doa ketika melihat Ka’bah yang telah dituntunkan dalam syariat ini.
    7. Mengucapkan do’a ketika di bawah Al-Mizab(talang air emas yang berada di salah satu sisi atas Ka’bah):اللّهُمَّ أَظِلَّنِيْ فِيْ ظِلِّكَ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّكَ وَاسْقِنِيْ بِكَأْسِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ …
    8. Do’a khusus di saat melakukan Raml pada tiga putaran pertama thawaf:اللّهُمَّ اجْعَلْهُ حَجَّا مَبْرُوْرًا وَذَنْبًا مَغْفُوْرًا وَسَعْيًا مَشْكُوْرًا …
    9. Do’a khusus di saat melakukan 4 putaran thawaf berikutnya:رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَتَجَاوَزْ عَمَّا تَعْلَمُ إِنَّكَ أَنْتَ الأَعَزُّ الأَكْرَمُ.
    10. Mencium Ar-Ruknul Yamani atau kedua Ar-Ruknusy Syami selain Al-Hajarul Aswad.
    11. Mengusap-usap bangunan Ka’bah dengan harapan mendapatkan barakah.
    12. Terus melakukan Thawaf walaupun telah dikumandangkan iqamah untuk shalat fardhu lima waktu berjama’ah. Semestinya dia menghentikan thawaf untuk menghadiri shalat berjama’ah. Kemudian dia melanjutkan thawaf-nya setelah shalat.
    13. Keluar meninggalkan Al-Masjidil Haram dengan berjalan mundur, meyakini bahwa tidak boleh berjalan membelakangi Al-Masjidil Haram atau Ka’bah.
    14. dan lain-lain

 

  1. Kesalahan yang terjadi ketika Sa’i di antara Shafa dan Marwah
    1. Melakukan wudhu’ secara khusus dalam rangka melakukan perjalanan dari Shafa menuju Marwah, dengan keyakinan bahwa barangsiapa yang melakukan hal itu akan dicatat untuknya pada setiap langkah 70.000 (tujuh puluh ribu) derajat.
    2. Mendaki ke bukit Shafa dengan memaksakan diri untuk menyentuh tembok bukit Shafa.
    3. Do’a khusus di saat turun dari Bukit Shafa dengan membaca:
      اللهُمَّ اسْتَعْمِلْنِيْ بِسُنَّةِ نَبِيِّكَ، وَتَوَفَّنِيْ عَلَى مِلَّتِهِ، وَأَعِذْنِيْ مِنْ مُضِلاَّتِ الْفِتَنِ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
    4. Do’a khusus ketika melakukan Sa’i:
      رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَتَجَاوَزْ عَمَّا تَعْلَمُ إِنَّكَ أَنْتَ الأَعَزُّ الأَكْرَمُ، اللّهُمَّ اجْعَلْهُ حَجَّا مَبْرُوْرًا وَذَنْبًا مَغْفُوْرًا وَسَعْيًا مَشْكُوْرًا …
    5. Shalat dua raka’at setelah menyelesaikan Sa’i, mengqiyaskan dengan dua raka’at setelah thawaf.
    6. Terus melakukan Sa’i walaupun telah dikumandangkan iqamah untuk shalat fardhu lima waktu berjama’ah. Semestinya dia menghentikan Sa’i untuk menghadiri shalat berjama’ah. Kemudian dia melanjutkan Sa’i-nya setelah shalat.
    7. dan lain-lain

 

  1. Kesalahan yang terjadi ketika At-Tahallul
    1. Menghadap kiblat ketika mencukur atau menggundul rambut, cara ini belum pernah dituntunkan oleh Rasulullah maupun para khalifah yang empat.
    2. Mengucapkan do’a khusus ketika tahallul, yaitu:  الحَمْد لِلِّهِ عَلَى مَا هَدَانِيْ وَأَنْعَمَ عَلَيْنَا اَللَّهُمَّ هَذِهِ نَاصِيَتِيْ بِيَدِكَ فَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَاغْفِرْ لِيْ ذَنْبِيِ اَللَّهُمَّ اكْتُبْ لِيْ بِكُلِّ شَهْرَةِ حَسَنَةً وَامْحُ بِهَا عَنِّيْ سَيِّئَةً وَارْفَعْ لِيْ بِهَا دَرَجَةً اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ وَلِلْمُحَلِّقِيْنَ وَالُمقَصِّرِيْنَ يَا وَاسِعَ الَمغْفِرَةِ آمِيْنَTidak ada satu hadits pun yang shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan bahwa beliau mengajarkan doa seperti itu kepada ummatnya.
    3. Menggundul dengan memulai dari sisi kiri kepala, ini merupakan kesalahan, sementara yang dicontohkan dalam sunnah adalah memulai dari sisi kanan, sebagaimana dalam hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu: أَنَّ رَسُوْلَ الله صلى الله عليه وسلمأَتَى مَنْزِلَهُ بِمِنَى وَنَحَرَ ثُمَّ قَالَ لِلْحَالِقِ: خُذْ وَأَشَارَ إِلَى جَانِبِهِ الْأَيْمَنِ ثُمَّ الْأَيْسَرِ.“Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamdatang ketempat tinggalnya di Mina dan menyembelih kemudian berkata kepada tukang pangkas rambut, pangkaslah! Seraya menunjuk ke sisi kanan (kepala)nya kemudian sisi kirinya.[1]
    4. Memangkas hanya sebagian rambut, sementara yang semestinya adalah memangkas seluruh rambut kepala, sebagaimana telah dicontohkan bahkan diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dalam hadits Abdillah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- رَأَى صَبِيًّا قَدْ حُلِقَ بَعْضُ شَعْرِهِ وَتُرِكَ بَعْضُهُ فَنَهَاهُمْ عَنْ ذَلِكَ وَقَالَ « احْلِقُوهُ كُلَّهُ أَوِ اتْرُكُوهُ كُلَّهُ ».
      “Rasulullah melihat seorang anak muda yang talah dipangkas sebagian rambutnya sementara sebagian lainnya tidak dipangkas, maka beliau melarang mereka dari perbuatan itu kemudian beliau bersabda: “Pangkaslah semuanya atau tinggalkan (jangan dipangkas) semuanya.”
      [2]

 

  1. Kesalahan yang terjadi di Madinah
    1. Mendatangi Madinah dengan tujuan utama berziarah ke kubur Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semestinya adalah berkunjung ke Masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai tujuan utama, kemudian setelah itu disunnahkan untuk berziarah ke makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
    2. Mengucapkan do’a khusus ketika mulai melihat kota Madinahdengan lafazh, اللَّهُمَّ هَذَا حَرَمُ رَسُوْلِكَ فَاجْعَلْهُ لِيْ وِقَايَةً مِنَ النَّارِ وَأَمَانًا مِنَ العَذَابِ وَسُوْءِ الحِسَابِ.
    3. Mengucapkan do’a khusus ketika memasuki kota Madinah: بِسْمِ اللهِ وَعَلَى مِلَّةِ رَسُوْلِ اللهِ، رَبِّي أَدْخِلْنِيْ مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِيْ مُخْرَجَ صِدْقٍ، وَاجْعَلْ لِيْ مِنْ لَدُنْكَ سُلْطَانًا نَصِيْرًا.
    4. Berdiri lama di hadapan makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan penuh kekhusyu’an sambil meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya seperti ketika sedang shalat.
    5. Menghadap ke kubur beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam di saat berdo’a kepada Allah.
    6. Sengaja berdo’a kepada Allahsubhanahu wa ta’ala di samping kubur beliau, dengan harapan lebih dikabulkan oleh Allah.
    7. Mengusap pintu atau tembok kubur Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atau menciumnya dalam rangka mendapatkan barakah.
    8. Sengaja melakukan shalat dengan menghadap ke kubur beliau.
    9. Berziarah ke kubur Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam secara rutin setiap selesai shalat lima waktu.
    10. Tinggal di negeri Madinah sepekan atau lebih, dalam rangka melakukan 40 (empat puluh) kali shalat di Masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang dikenal di kalangan orang-orang awam dengan Shalat Arba’in. Disertai keyakinan bahwa hal itu dapat membersihkan dirinya dari kemunafikan serta menyelamatkannya dari siksa api neraka. Sementara hadits yang sering disebut tentang amalan tersebut adalah hadits yang munkar, yaitu dengan lafazh: مَنْ صَلَّى فِيْ مَسْجِدِيْ أَرْبَعِيْنَ صَلاَةً لاَيَفُوْتُهُ صَلاَةٌ كُتِبَتْ لَهُ بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ وَنَجَاةٌ مِنَ العَذَابِ وَبَرِىءٌ مِنَ النِّفَاقِ.

      Barangsiapa yang shalat di masjidku ini sebanyak 40 (empat puluh) kali shalat, tanpa ada satu shalat pun yang terlewati, maka akan dicatat untuknya kebebasan dari An-Nar (neraka), keselamatan dari adzab, dan terbebas dari kemunafikan.
      [3])
    11. Mengunjungi beberapa masjid dan tempat-tempat ziarah yang ada di Madinah dan sekitarnya, selain Masjid Nabi dan Masjid Quba’.
    12. Berziarah ke pemakaman Al-Baqi’ setiap hari secara rutin.
    13. Pengkhususan ziarah ke makam para syuhada’ Uhud pada hari Kamis.
    14. Keluar meninggalkan Masjid Nabi dengan berjalan mundur, meyakini bahwa tidak boleh berjalan membelakangi Masjid atau makam Nabi.
    15. dan lain-lain.

 

[1] HR. Muslim.

[2] HR. Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa’i, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani (Ash-Shahihah, no. 1123)

[3]HR. Ahmad. Hadits ini kedudukannya adalah munkar, sebagaimana dijelaskan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha’ifah no. 364.

 

Belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi.

Komentar Anda* Nama Anda* Email Anda* Website Anda

Kontak Kami

Apabila ada yang ditanyakan, silahkan hubungi kami melalui kontak di bawah ini.